Akhlak : Memahami Pengertian Akhlak

Akhlak




Bismillahirrahmanirrahim, . Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Pengertian Akhlak

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akhlak diartikan dengan budi pekerti, kelakuan. Sedangkan moral diartikannya sebagai ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dsb. Akhlak juga diartikannya dengan kondisi mental yang membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah, berdisiplin, dan sebagainya, sebagaimana ia juga dipahami dalam arti isi hati atau keadaan perasaan, sebagaimana terungkap dalam perbuatan. Sedang etika diartikannya dengan ilmu tantang apa yang baik apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).
Merujuk pada asal usul kata akhlak, diketahui bahwa ia terambil dari bahasa Arab أخلاق akhlaq. Kata ini merupakan bentuk jamak dari kata خُلُقْ khuluq yang pada mulanya bermakna ukuran, latihan, dan kebiasaan. Nah, dari makna pertama (ukuran) lahir kata makhluk, yakni ciptaan yang mempunyai ukuran; serta dari makna kedua (latihan) dan ketiga (kebiasaan) lahir sesuatu positif maupun negatif. Batu yang licin dinamai خَلْقَاءْ khalqa’ karena ia berkali-kali disentuh oleh sesuatu, juga kata khalaq yang berarti usang karena telah berkali-kali lagi terbiasa digunakan. Al Qur’an dilukiskan sebagai:
لا تنقضي عجائبهٌ ولايخلق بكثرةالرد
Kitab yang tidak habis keajaibannya dan tidak juga usang dengan seringnya dirujuk.
Makna-makna di atas mengisyaratkan bahwa akhlak dalam pengertian budi pekerti maupun sifat yang mantap dalam diri seseorang/kondisi kejiwaan baru dapat dicapai setelah berulang-ulang latihan dan dengan membiasakan diri melakukannya. Dari paparan di atas agaknya tidak terlalu meleset jika dalam penggunaan sehari-hari kata-kata: akhlak, budi pekerti, moral, dan etika dipersamakan maknanya walaupun tentu jika ditinjau lebih dalam, akan ditemukan perbedaan-perbedaannya.
Pandangan pakar-pakar Muslim yang memberi perhatian tentang akhlak tidak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan di atas. Secara umum, mereka menekankan bahwa: Akhlak adalah sifat dasar yang telah terpendam di dalam diri dan tampak ke permukaan melalui kehendak/kelakukan dan terlaksana tanpa keterpaksaan oleh satu dan lain sebab.
Manusia memiliki akhlak yang bersumber dari tabiat manusia dan juga akhlak yang dikaitkan dengan aktivitasnya yang lahir oleh dorongan kehendaknya. Karena itu, ada yang dinamai akhlak diri manusia dan ada juga yang merupakan akhlak kegiatannya, yakni aktivitas yang lahir dari kehendaknya. Yang pertama (akhlak diri) lahir bersamaan dengan fitrah/asal kejadian manusia. Ia dinamai akhlak karena ia merupakan makhluq, yakni sesuatu yang tercipta sejak kelahiran.
Manusia pada umumnya, kecuali yang diistimewakan Allah, sebagian menyandang akhlak terpuji dan sebagian lagi akhlak tercela. Ini akibat fitrah yang disandang manusia, dimana Allah menganugrahkan kepadanya potensi/kecenderungan untuk berbuat baik dan buruk. Dengan demikian, manusia yang terpuji adalah yang kebaikannya melebihi keburukannya.
Imam al-Ghazaly dalam bukunya Ihya’ ‘Ulum ad-Din mengemukakan bahwa: “Khuluq dan khalaq adalah dua kata yang dapat ditemukan dalam satu kalimat. Anda dapat berkata: فلان حسن  الخلق والخُلُقُ  Fulan hasan al-khalq wa al-khuluq (Si A baik bentuk badannya dan baik pula akhlaknya); yang pertama (rupa/badan) dapat dilihat dengan mata kepala, sedang yang kedua karena bersifat batin, “tidak terlihat substansinya”, tetapi terlihat dampaknya dalam aktivitasnya. Hakikat kedua kata tersebut ada pada diri setiap insan karena manusia adalah gabungan dari jasmani dan ruhaniyang masing-masing bisa jadi baik dan bisa jadi juga buruk. Al-Ghazaly lebih jauk menjelaskan bahwa khuluq (akhlak) merupakan kondisi kejiwaan yang mantap, yang atas dasarnya lahir aneka kegiatan yang dilakukan dengan mudah, tanpa harus dipikirkan terlebih dahulu. Nah, bila kondisi kejiwaan itu baik dan melahirkan perbuatan-perbuatan yang dinilai oleh akal dan agama baik, pemiliknya dinilai memiliki akhlak mulia. Sebaliknya pun demikian.
Di atas dikatan bahwa kondisi kejiwaan itu harus mantap karena misalnya siapa yang jarang bederma lalu satu ketika ia bederma oleh satu dan lain sebab, maka sikapnya itu tidak lahir dari kondisi kejiwaan yang mantap dan dengan demikian ia belum wajar dinilai memiliki akhlak yang baik, kendati di kali itu atau beberapa kali yang lain ia telah melakukan sesuatu yang tampaknya baik.
Di samping itu ada juga yang dinamai akhlak masyarakat. Ada akhlak masyarakat Amerika, ada juga masyarakat Inggris, Arab, Indonesia, dan lain-lain. Masing-masing memiliki kebiasaan-kebiasaan yang bisa jadi sedikit atau banyak berbeda dengan kebiasaan masyarakat lain. Ia adalah adat kebiasaan yang telah diterima dan dianggap baik oleh masyarakat tertentu walau itu tidak diterima oleh masyarakat lain. Ini --- dalam bahasa al-Qur’an kalau baik dinamai ma’ruf/dikenal dan disetujui, sedang kalau buruk dinamai munkar, yakni diingkari dan ditolak oleh masyarakat. 
Disisi lain dapat juga dikatakan bahwa akhlak jika ditinjau dari segi tujuannya merupakan sekumpulan nilai yang harus diindahkan manusia dalam aktivitasnya demi terciptanya hubungan harmmonis dengan selainnya, bahkan demi meraih kebahagiaan pribadi dan masyarakat.


Comments

Popular Posts